Kemahasiswaan

Dr. Deni Lesmana, S.Pd., M.Pd.I.

Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siapa?

Administrator | Senin, 28 Agustus 2017 - 11:07:45 WIB | dibaca: 7664 pembaca

Pendidikan Karakter

Penangkapan para oknum pejabat oleh KPK, terus menambah cerita buram kasus korupsi di Indonesia. Lembaga sekelas Mahkamah Konstitusi (MK) pun pernah tersandung kasus. Hal itu membuat semua kalangan kaget seolah tidak percaya. Lembaga sekelas MK yang dinilai sebagai lembaga peradilan yang bersih serta menjungjung keadilan telah ternoda. Tentunya hal ini akan menambah citra buruk peradilan negara di negeri kita ini.

Para pejabat yang terkena kasus korupsi bukanlah orang tidak pandai, mereka adalah orang pandai yang mengeyam pendidikan tinggi dan tentunya harus mempunyai intergritas tinggi pula. Namun sayang, hasil pendidikan yang seharusnya membawakan kemaslahatan untuk dirinya, keluarganya atau masyarakat malah membawakan mereka tejerumus kedalam kubungan lumpur hina dina.

Memang betul tingkat pendidikan seseorang bukanlah satu-satunya barometer akan baik atau tidaknya seseorang, atau tidak bisa pula pendidikan dijadikan satu-satunya yang disalahkan dalam hal ini. Banyak faktor yang meyebabkan integritas mereka tergadaikan oleh “rupiah”. Namun secara akal sehat (logis) semakin tinggi seseorang dalam mengenyam pendidikan maka, akan sebanding lurus pula dengan tingginya budi perkerti mereka. Karena bagaimanapun pendidikan sejatinya akan mengarahkan manusia untuk melakukan hal yang baik dan mencegah menusia untuk berlaku dzolim. 

Dari hal itu jelas, mengapa pendidikan dikatakan mempunyai peran sentral dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan berakhlak mulia. Sehingga tidak heran dibanyak negara di dunia ini yang mulai sadar untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama yang diperhatikan dibandingan bidang lainnya. Termasuk di Indonesia yang kasus korupsinya sudah akut. Indonesia dituntut perlu membuat formula pendidikan untuk memutus rantai kebiasan korupsi yang sudah membudaya ini.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pendidikan yang berpusat kepada penanaman nilai agama, karena inilah ruh pendidikan kita. Pendidikan yang mengajarakan manusia untuk taat dan patuh kepada Tuhan-Nya. Sehingga jelas orang yang taat dan patuh pada Tuhan-Nya ia akan mempunyai akhlak yang baik. Karena barometer tingginya iman sesorang itu bisa dilihat dari akhlakanya. Atau singakatnya akhlak adalah buahnya iman.

Pengembangan pendidikan berbasis nilai keagamaan sejatinya inilah yang harus menjadi pusat perhatian pakar pendidikan dewasa ini. Dimulai dari bagaimana merancang kurikulum yang pas dan tepat, hingga bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang unggul untuk bisa mengimplemntasikan kurikulum tersebut.

Satu hal lagi yang harus disadari bersama adalah pendidikan agama bukanlah tugas pendidikan formal. Namun jauh dari itu, tugas pendidikan nilai agama adalah tugas pendidikan non-formal dan informal. Sehingga jelas pendidikan nilai agama akan terwujud jika semua elemen bertanggung jawab dengan berperan sebagai pendidik. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 110, yang artinya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”

Sehingga pada akhirnya, pendidikan karakter akan terwujud jika kita sama-sama memahami bahwa tugas pendidikan karakter adalah tugas kita bersama-sama dan tentunya dengan melaksanakan peran itu dengan baik dan seoptimal mungkin. Dengan harapan kelak kita mempunyai generasi bangsa yang bukan hanya unggul dalam intelektual, namun kaya akan amal dan molek dalam akhlaknya. Semoga.










    Komentar Via Website : 30


    Nama

    Email

    Komentar



    Masukkan 6 kode diatas)